• Ekonomi Desa Gunung Sereng



    Perekonomian menjadi satu kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, selain demi keberlangsungan hidup namun juga untuk menentukan masa depan anak mereka sehingga ini menjadi batas ambang dari setiap warga baik perkotaan maupun pedesaan. tidak bekerja dan hanya hidup foya-foya tidak tampak dalam desa Gunung Sereng ini. Banyak warga yang bekerja dengan bertani, berkebun, berternak, pergi merantau keluar kota dan lain-lain.
    Masyarakat Gunung Sereng sendiri bisa dikatakan masih memiliki perekonomian yang menengah, namun ada beberapa dusun yang berada di sini memiliki perekonomian yang sangat rendah. Masyarakat disini lebih mementingkan mempunyai banyak anak daripada mempunyai sedikit anak, karna kebanyakan penghasilan yang dimiliki orang tua didapatkan dari hasil kerja keras anak-anak mereka yang merantau keluar kota.
    Berdasarkan data monografi Desa Gunung Sereng, berkisar 300 orang yang pergi bekerja keluar pulau Madura (merantau), 150 sebagai petani, 75 sebagai buruh tani, 30 orang sebagai buruh bangunan, 30 orang sebagai pedagang, 15 orang sebagai pengrajin dan 13 orang sebagai PNS. Kebergantungan mereka terhadap anak mereka yang pergi keluar kota untuk bekerja adalah harapan utama, banyak pemuda yang pergi merantau dan kembali dengan menghasilkan banyak pendapatan untuk biaya hidup.
    Mayoritas msyarakat yang pergi keluar kota adalah bekerja sebagai tukang cukur. Diketahui jika pengahasilan yang didapat jika satu kali cukur rambut maka akan mendapat Rp. 50.000 dari setiap orangnya, berbeda lagi dengan mencukur jenggot, jika di kasarkan penghasilan perbulan bisa mencapai 5-6 juta perbulan.
    Setiap tahunnya masyarakat rutin menanam padi dan jagung, namun terkendala dengan kekeringan yang sering terjadi disini mengakibatkan turunnya pendapatan. Hanya ada beberapa sumur yang masih memiliki sumber mata air di musim kemarau. Banyak dari warga Gunung Sereng, betani ketika musim hujan saja, selepas itu mereka hanya beternak saja dan tidak melakukan aktivitas lainnya untuk bekerja. Alan tetapi beternak dalam jumlah yang relatif kecil, karna pekerjaan itu dijadikan sebagai pengisi waktu nganggur masyarakat Gunung Sereng hampir separuh rumah di desa tersebut memiliki hewan ternak sendiri, akan tetapi ada juga yang di rumahnya memelihara ternak namun miik orang lain. Biasanya orang yang menjaga ternak orang lain akan dibayar separuh dari pendapatan pemilik hewan ternak tersebut.

  • 0 komentar:

    Posting Komentar